| |
Tata niaga CPO dan minyak goreng
| Tahap I |
Tahap II |
Tahap III |
Tahap IV |
Tahap V |
Kelapa sawit
- perkebunan Negara
- perkebunan swasta
- perkebunan rakyat (PIR)
|
Pabrik CPO
Pemain besar yang menguasai industri hulu minyak goreng :
- raja garuda mas group
- wilmar group
- guhtrie Bhd (eks salim)
- sinar mas group
- astra agro lestari
- cilandara perkasa group
- sucofindo group
- kurnia group
- lonsum group
- bakrie group
- lainnya (200 perusahaan)
|
Pasar dalam negeri |
Industri minyak goreng dan olein |
Konsumen
(harga CPO naik karena permintaan CPO untuk bahan biofuel meningkat) |
Pasar luar negeri |
Industri kosmetik dan lain-lain |
Keterangan :
CPO : hasil olahan minyak sawit
PIR : perkebunan inti rakyat
Tata niaga susu
| Tahap I |
Tahap II |
Rtahap III |
Tahap IV |
Tahap V |
Peternak sapi perah
Kendala :
- bibit
- penyediaan pangan
- standarisasi kualitas
- pemasaran
insentif yang minim menyebabkan keengganan para peternak untuk mengembangkannya dan memproduksi lebih banyak |
Koperasi
Gabungan koperasi susu Indonesia (GKSI)
Kendala :
- hanya mampu beli susu dengan harga rendah
- harus kreatif mencari bentuk pemasaran yang baru
|
Bahan baku domestic (25%) |
Pabrik susu
- membutuhkan bahan baku 2,5 juta ton/tahun
- beberapa pemain besar di Indonesia :
- PT nestle Indonesia
- PT Frisian flag Indonesia
Catatan :
Dahulu pabrik susu harus memiliki bukti serap sebagai tanda kemauan menyerap susu segar domestic. Saat ini, kewajiban tersebut sudah dihapuskan. |
88%
(pasar domestic) |
Bahan baku impor (75%)
(Australia dan selandia baru)
Harga susu dunia naik karena :
- bagian selatan bumi mengalami kekeringan hebat sehingga produksi susu menurun
- kebijakan subsidi bahan baku susu di uni eropa (UE) dicabut sehingga pasokan suplai susu dari UE turun
- harga CPO yang merupakan bahan susu kental manis naik
|
12%
(ekspor ke afrika barat, Nigeria, pantai gading dan kamerun |
Catatan :
dahulu pabrik susu harus memiliki bukti serap sebagai tanda kemauan
Perkembangan ekspor CPO
| Tahun |
Volume (ribu ton) |
Nilai (juta dollar AS) |
2000 |
4.110 |
1.078,27 |
2001 |
4.903,21 |
1.080,90 |
2002 |
6.333,70 |
2.092,40 |
2003 |
6.386,40 |
2.454,60 |
2004 |
8.661,60 |
3.441,77 |
2005 |
10.376,19 |
3.756,28 |
2006 |
10.989,15 |
4.095,66 |
Perkembangan impor susu dan produk susu
| Tahun |
Volume (ribu ton) |
Nilai (juta dollar AS) |
2002 |
107,87 |
179,9 |
2003 |
117,32 |
207,48 |
2005 |
173,08 |
399,17 |
2006* |
169,68 |
398,56 |
*) keterangan : estimasi
Proporsi sumbangan kelompok terhadap inflasi nasional
| Keterangan |
Proporsi |
Bahan makanan* |
0,13 |
Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau |
0,06 |
Perumahan, air, listrik, gas, dan bahan baker |
0,04 |
Sandang |
0,03 |
Kesehatan |
0,01 |
Transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan |
0,02 |
*) keterangan :
Komoditas bahan makanan yang dominant memberikan sumbangan inflasi bulan juni 2007 adalah (urut dari yang paling besar) :
- cabai merah
- minyak goring
- bawang merah
- kangkung, mentimun, petai
- tempe dan tahu
- susu bubuk
--------------------------------------
Sumber data : litbang kompas, diolah dari BPS dan majalah Trust
sumber berita : harian kompas/sabtu, 21 juli 2007
|
|